Tanggal 17 April 2007 kemarin, adik-adik kelasku yang duduk di kelas XII (Kelas III SMA) sedang ujian nasional. Ku teringat, tepat setahun yang lalu akupun melalui tes yang bikin jantung berdegup tak tentu, keringat mengucur deras, dan tangan bergetar ini. Segala cara dilakukan agar lulus. Sepertinya, tiga tahun kita belajar di sekolah, hanya di tentukan selama tiga hari ini aja. Wah, cape deh…
Dan saat menunggu pengumuman lulus pun menjadi suatu hal yang sangat mendebarkan. Detak jantung seakan tak berirama lagi. Bukan hanya kelulusan ku yang kuinginkan, tapi aku pengen temen-temen satu sekolahku lulus semua. Atas nama persaudaraan. Ga enak kan kalo Cuma kita yang bahagia, sementara temen seperjuangan kita pada sedih. Ga asyik banget.
Namun, usaha memang ga akan sia-sia jika diiringi kerja keras dan doa. Semuanya terbayarkan. Sekolahku lulus 100 persen. Alhamdulillah. Gembira banget waktu itu. Dan perguruan tinggi pun siap di depan mata untuk disambangi. Merajut impian menjadi sarjana. Mimpi yang sangat indah waktu itu. Sangat indah.
Dan sekarang, aku sudah duduk di bangku kuliah –setidaknya semester lalu-. Dan aku sudah merasakan dunia orang intelek –jangan diartikan dalam bahasa jawa ya, yang artinya (maaf) tahi, hehehe-. Dunia yang selama ini kulihat di televisi melalui demo-demo di depan kantornya wakil rakyat. Sambil bakar-bakar ban. Atas nama rakyat katanya.
Namun sekarang aku sudah berhenti kuliah. Bukan karena di DO. Bukan juga karena ga bayar uang kuliah. Tapi prinsip hidupku yang mengalahkan semuanya. Pertama, aku pengen berjuang lagi ngebangkitin sekaligus ngewujudin cita-citaku menjadi dokter. Cita-cita sekaligus tumpuan tanggung jawab bagi keluargaku. Keluarga yang selama ini telah menghadirkan aku diantara mereka. Keluarga yang canda dan tawanya masih kuingat sampai sekarang –dan mungkin selamanya-. Kuputuskan untuk belajar mandiri dirumah. Belajar lagi pelajaran SMA yang udah banyak kulupa. Dan aku memilih untuk belajar mandiri karena, aku ngerasa bisa ngatur kapan aku mau belajar. Dan aku pikir hasilnya akan lebih maksimal. Namun, entar deket-deket spmb baru aku mau ikut bimbel. Ya, ngetes-ngetes soal + try outnya lah..
Walaupun nanti ga lulus –mudahan lulus donk- aku akan terus berusaha lagi. Setahun lagi kesempatan ku. Mungkin Allah, belum menetapkan tahun ini aku jadi dokter. Insya Allah tahun depan. Karena aku ga mau hanya sekedar jadi dokter. Yang masuknya begitu mudah. Dengan duit. Ga’ lah… Karena masyarakat membutuhkan dokter yang pintar akal dan pintar hati. Ga bisa salah satu, harus keduanya. Dan aku akan berusaha memenuhi keduanya. Amin…
Dan aku juga udah menyiapkan planning lainnya jika aku ga lulus. Mungkin aku ga akan ditakdirin jadi dokter –setidaknya aku udah berusaha- aku akan terjun ke dunia bisnis. Ya aku begitu tertarik memimpin orang, warisan dari bapakku yang ga mau banget jadi pegawai negeri. Ya, akan kurintis semuanya dari awal. Dari nol.
Dan mulai sekarang aku udah rintis itu semua. Karena aku punya sedikit keahlian di bidang pembuatan website, ya aku sekarang mulai terjun ke bisnis dot com. Lumayanlah, entar kalo duitnya udah banyak, aku akan biayai kuliah kedokteranku sendiri. Aku tahu, begitu berat dana yang harus ditanggung oleh orang tuaku. Sedangkan aku masih punya adik yang begitu banyak juga dana yang harus disiapkan. Aku ga mau ngebebanin mereka. Sama sekali ga mau.
Dan sekarang aku sama sekali ga takut kalo ga lulus. Aku yakin Allah punya rencana yang indah buatku. Sangat indah. Dan aku belum tahu itu apa. Tapi aku yakin itu kan jadi nyata.
Alasan kedua, untuk sekarang aku berpandangan bahwa kuliah yang kujalani kemarin (FKM) dan fakultas-fakultas lainnya ga begitu sesuai dengan pandanganku. Bukan ga bagus loh, tapi ga sesuai dengan pandangan hidupku.
Aku memang senang berhubungan dengan masalah kesehatan (karena itu aku pilih Fakultas Kesehatan Masyarakat). Di FKM kita diajarkan untuk mensosialisasikan menjaga kesehatan itu lebih baik daripada mengobatinya. Sangat bagus.
Namun, suatu hari di gramedia, aku mendapat buku yang sangat bagus sekali. Judulnya Selamat Tinggal Sekolah. Disitu aku mulai berpikir, kalo belajar itu ga harus melalui bangku sekolah. Karena hakekatnya belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja. Kalau boleh saya bilang, belajar di sekolah dan perguruan tinggi itu hanya mengejar ijazah. Untuk mendapat legalitas. Karena, untuk mencapai idealisme sekolah dan perguruan tinggi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas hanyalah isapan jempol belaka. Dan sangat sedikit yang mencapai kondisi idealis seperti itu.
Dan aku pernah masuk dalam komunitas itu –sekolah- dan Anda juga pernah kan? Aku ngeliat orientasi para pelajar dan mahasiswa belajar di sekolah, adalah sekedar mendapat nilai. Nilai yang menurut guru kita adalah segala-galanya. Karena orientasi pendidikan kita adalah mengukur kemampuan. Bukan mengembangkan kemampuan. Jadinya, banyak temen-temen –kadang saya ikutan sih- nyontek, ngerpek(bikin catatan kecil), pake sms, dan seribu satu cara lainnya yang sangat beragam dan sulit diketahui oleh guru.
Inikah yang kita inginkan dari para pemimpin kita kelak nanti. Ah… aku sangsi mereka akan jadi baik kalo di sekolah aja nyontek.
Dan sekarang aku sudah merasakan hakekat belajar yang sesungguhnya. Tanpa tekanan, namun tetap ada target. Setiap hari sehabis bersih2 rumah di pagi hari aku udah belajar. Setiap 30 menit aku istirahat 5 menit. Sampai waktu zuhur tiba. Abis itu aku tidur siang ampe ashar. Abis itu kadang aku keluar. Kadang ke mal, taman, pantai, warnet ataupun kafe buku. Pokonya waktu sore itu aku manfaatin buat nyari ilmu yang lain. Trus abis isya aku belajar lagi sampai jam setengah sebelas. Biz itu nonton TV (tau kan acara apa? Empat mata yang lucu abiz). Trus sambung belajar lagi ampe jam dua. Trus tidur dan bangun lagi di subuh hari. Begitu seterusnya. Dan aku ga ngerasa tertekan ataupun terbebani. Aku begitu enjoy dan fleksibel. Dan dampaknya aku bisa lebih berkonsentrasi untuk belajar. Mungkin inilah makna sebenarnya dari kata “belajar” yang selama ini aku cari. Ini dia…
Mudahan tulisan ini bisa menjawab pertanyaan temen-temenku yang selama ini bingung dan kaget akan keputusanku untuk berhenti kuliah. Mudahan kalian sukses dengan dunia kalian. Dan saya yakin, tiap orang punya pendirian dan pemikirannya masing-masing. Dan aku sangat menghargai itu. Pesenku, belajarlah dengan giat. Bukan belajar karena ada nilai ya. Karena nilai itu adalah kompensasi atau hadiah dari usaha belajar kita. Ok bro….
Jangan lupa, kutunggu comment nya ya….
Jangan takut ga’ lulus
Cinta …
Cinta…
Rasanya sudah begitu melekat bagi remaja. Entah yang bener2 udah remaja atau anak kecil yang udah ngebet banget disebut remaja. Lihat aja beberapa sinetron TV yang menggambarkan hubungan cinta antara anak SD ! Bayangkan !! Kita dulu aja ga berani. Malu-malu. Sekarang malah diekspos lagi. Bener2 aneh nih dunia skarang..
Dan kaum yang udah lama ketularan ‘virus’ cinta ini adalah remaja. Atas dasar cinta mereka rela ngelakuin apa saja. Bahkan mengalahkan logika. Aku bukanlah orang yang ga pernah kenal cinta (dan berlanjut pacaran). Aku pernah merasakannya. Tapi aku bener2 nyesal menyalahgunakan cinta. Seharusnya cinta ku yang begitu besar hanya untuk Allah.. hanya untuk Dia. Dulu aku telah membagi cintaku dengan sesama hambaNya. Dan selalu aja kebayang wajahnya disetiap waktu. Alangkah ruginya aku waktu itu yang dibutakan oleh cinta. Seharusnya kan pikiranku bisa aku gunakan untuk memikirkan hal-hal yang lebih berguna..
Ketika pacaran, batasan agama seakan hilang. Yang haram terkesan halal. Misalnya pegangan tangan. Menjadi sangat biasa. Padahal dosanya bejibun banget. Astagfirullah … Ampuni hamba ya Allah. Juga buat yang baca blog ini, mudahan dapat mengambil pelajaran dari tulisan ini.
Dan mulai sekarang aku ga akan melalui jalan pacaran lagi (Bimbinglah hamba-Mu ini ya Allah agar tetap istiqamah.) Mencari pasangan hidup tidak harus lewat pacaran. Allah sudah menjanjikan dalam Al-Quran bahwa Laki-Laki yang baik akan mendapatkan Wanita yang baik pula. Dan aku yakin akan hal itu. Sangat yakin. Jadi sekarang aku akan perbaiki diri terlebih dahulu. Menjadi lelaki terbaik yang diinginkan oleh Islam. Insya Allah akan kutemukan pasangan hidup yang benar-benar seperti yang dijanjikan Allah. Amin…
Komentar nya ditunggu ya…[klik link comments aja]
Kembali Ke Laptopnya DPR
Khitbah
Artikel ini saya dapatkan dari kemudian.com Cukup menarik dan menyentuh..
===============================================
SHALAT ISTIKHARAH YANG KE-7
A’UDZUBILLAHIMINASSYAITANIRRADZIM.
BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM…….
Engkaulah yang Maha Mengetahui bahwa umur saya masih 21 tahun lewat dua bulan. Tapi ustadz muda itu melamar saya, ya Allah. Saya hanya bisa terpana, tak tahu harus menjawab apa. Tapi diam-diam saya merasa malu pada-Mu. Engkau gerakkan hatinya untuk mengkhitbah saya yang jelas-jelas masih jauh dari predikat mukminah ini, ya Rabb. Saya malu, pakaian yang rapat menutup aurat saya ini telah mampu mengecohnya dan membuatnya mengira saya adalah perempuan baik-baik. Bukan perempuan yang dulu pernah tenggelam dalam lembah hitam obat-obatan terlarang dan minuman keras. Dia tidak tahu, ya Rabbi, tapi Engkau lah yang Maha Tahu. Hanya Engkau yang mengetahui siapa sebenarnya diri saya yang hanya lahirnya saja terlihat baik ini. Apakah maksud-Mu dengan semua ini, ya Allah? Saya hanyalah setitik debu yang pernah menghamba pada tuntutan hidup yang keras ini.
Apakah ia masih ingin meminang saya andai pun ia tahu masa lalu saya yang suram itu? Apakah keluarganya tak memandang jijik saya yang kotor ini?Apakah saya pantas ya Rabb? Pantaskah saya menerima karunia-Mu ini? Apakah saya pantas mendampingi pria baik-baik seperti dia?
Ya Lathif, yang saya tahu bahwa pernikahan itu adalah suatu hal yang agung. Ikatan yang Engkau ridhoi. Wadah cinta kasih, wadah muthmainah, wadah seorang wanita dengan karir paling agung di dunia. Menjadi istri dan menjadi ibu, menjadi wadah pendidikan dunia akhirat pertama bagi anak dan harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan-Mu nanti. Wadah bertemunya dua mahluk yang berlainan jenis dalam bingkai ibadah halal tanpa hijab. Karena konsep yang agung dan suci yang Kau ajarkan itulah, ya Allah, saya takut sekali untuk menerimanya. Karena menikah bukan hanya untuk sehari dua, tapi seumur hidup bahkan sampai ajal menjemput.
Dan saya?, baru setahun ini hidup dalam lingkungan bersih Yayasan Ainul Haq ini. Itu pun jika Engkau tak mengirimkan Endang sebagai penyelamat saya dari lembah hitam itu, andai tak Engkau kirimkan Ustadz Yudi untuk mengajari saya, andai tak Kau berikan hidayah itu, mungkin saat ini hamba masih berkutat dengan barang-barang haram itu.
Berkecamuk dada saya, ya Fatah, karena saya tahu sebuah hadist nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa jika seorang wanita menolak lamaran seorang laki-laki yang engkau ridhoi agamanya, maka tunggulah kerusakan di muka bumi ini. Tapi apakah seorang saya, seorang Afifa adalah orang yang tepat untuknya? Hanya Engkau yang Maha Tahu, karenanya bantulah saya untuk memilih yang terbaik untuk kami semua.
Ya Hayyu, yang Maha memiliki segala sesuatu, saya merasa belum bisa membalas jasa orang tua saya. Salahkah saya jika menolaknya atau beruntungkah saya apabila menerimanya?. Pilihkan ya Allah, saya benar-benar bingung. Saya merasa punya tanggung jawab besar pada orang tua saya, pada adik-adik, pada pekerjaan dan masa depan, dan sebagainya, dan sebagainya. Mungkin itu semua adalah alasan yang naif, karena kata Ustadz Yudi menikah itu membuka jalan berkah, menggenapkan separuh agama. Rasanya saya tidak sanggup, ya Rabb. Begitu banyak yang belum saya ketahui tentang hidup ini, begitu banyak yang ingin saya lakukan untuk keluarga saya, banyak tempat yang ingin saya kunjungi, masih banyak mimpi saya, ya Allah.
Maafkan saya, ya ghafuur, karena sok tahu. Tapi Engkaulah yang Maha Faham bahwa betapa badai mengamuk di dada saya. Dia lelaki sholeh yang matang secara mental spiritual dan mapan dalam hal materi, ia pantas mendapat akhwat yang lebih baik daripada saya, akhwat yang pantas mendampinginya meniti jalan dakwah. Jangan murkai saya, ya Allah, jangan murkai saya karena merasa tahu. Maka berkali-kali saya sujud memohon kemurahan-Mu untuk memutuskan yang terbaik untuk saya, menurut ilmu-Mu. Hingga sampaikanlah hati saya kepada keputusan “menerima” atau”menolak”. Berikanlah kemantapan pada hati ini, ya Wahab. Saya tahu, tak mungkin Engkau mengecewakan hamba-Mu. Engkaulah yang Maha memenuhi janji.
Tak saya pungkiri, bagaimana pun saya menginginkan sebuah keluarga dengan “muthma’inah”. Betapa saya terpanggil untuk memenuhi panggilan-Mu itu ya Qoyyum. Tapi dengan orang yang tepat. Dengan orang yang saya tak ragu untukmenyerahkan diri kepadanya, hingga saya ikhlas mengabdikan diri sebagai istri, merelakan hidup saya bersamanya. Saya berharap pada-Mu ya Allah.
Maafkan saya jika selama ini, hari-hari yang saya jalani setelah khitbahnya itu, membuat syetan dengan mudah masuk ke kisi-kisi hati, karena saya memahami bahwa betapa rentan menyimpan rasa ini. Betapa syetan menghadang kanan kiri, muka belakang, berjalan di lairan darah yang tiap saat saya coba sucikan. Hanya Engkau yang tahu, ya Allah betapa saya berjuang menahan letupan-letupan rasa suka itu padanya. Tuntun saya memakrifati cinta-Mu, bahkan yang Kau hadirkan dalam perasaan pada mahluk ciptaan-Mu. Bantu saya memcintai sesuatu karena diri-Mu saja.
Saya ingin jujur padanya tentang masa lalu saya, ya Allah, tapi saya ragu dan serasa tak kuasa membuka kembali aib itu. Bahwa saya seorang mantan pecandu narkoba.Ya Salam, berikanlah keberanian itu pada hamba, agar ia tak menunggu terlalu lama. Sementara itu berikanlah saya sedikit kesempatan lagi untuk memperbaiki akhlak saya. Tuntunlah ke dalam ruang dan waktu di mana Engkau siapkan dan mantapkan hati hamba untuk menolak atau menerimanya.
Maka tolonglah agar saya tidak akan menyesali keputusan saya nantinya. Ajari saya untuk mempersiapkan diri menuju ke jenjang pernikahan itu. Tamparlah saya jika berani berpaling dari-Mu lagi, jangan masukkan saya ke dalam golongan orang munafik. Kuatkan hati saya untuk menjadikan-Mu segala-galanya dalam kehidupan saya.
Beri dia yang terbaik
Beri saya yang terbaik
Berianlah yang terbaik untuk orang-oang yang saya cintai,
Menurut-Mu ya Allah,
Atas pengetahuan-Mu yang tanpa batas.
Bila pun airmata ini harus mengalir, alirkanlah karena cinta dan khauf kepada-Mu. Berikanlah saya kemantapan hati untuk mengambil keputusan. Sementara itu bimbinglah hamba untuk terus menjaga hidayah yang Engkau berikan, kesadaran untuk terus menjaga harga diri dan berikanlah kesadaran untuk menghargai diri sendiri. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
16 Desember 2000
Malam semakin sunyi, aku menatap sekeliling kamar dengan perasaan syukur yang membuncah di dada. Suamiku ada di kamar kerjanya. Kumasukkan lagi diary berwarna ungu itu ke dalam laci,menyimpannya dengan hati-hati. Karena di dalamnya ada harta yang paling berharga. Sepenggal doa yang kutulis setelah melaksanakan sholat istikharah yang ketujuh kali, empat tahun yang lalu. Sholat di tengah malam buta yang penuh dengan derai airmata. Ali anakku yang berumur 2 tahun mendengkur lembut di peraduan kami. Sepasang tangan kokoh kemudian melingkari pinggangku dari belakang.
“Sayang, tidur yuk..”
Aku berbalik menatapnya bahagia. Wajah teduh yang kucintai itu tampak terkantuk-kantuk. Alhamdulillah. Allah telah memilihkanku yang terbaik. Lelaki itu ada di sini, mencintaiku dan anak kami. Empat tahun yang penuh kasih dan semoga akan selalu penuh kasih. Lelaki yang dengan rela menerima diriku apa adanya. Lelaki tampan itu Ustadz Iwan yang empat tahun yang lalu telah membuatku shalat istikharah sampai tujuh kali.
Samarinda, 3 Juni 2004
Lucu Ya…
Dikutip dari sebuah buku yang aku lupa judulnya.. Bukan maksud mencuri hak cipta, tetapi menjadikan renungan buat semuanya… Termasuk aku.
Lucu ya … Uang Rp 20 ribu jadi sangat besar ketika berada di kotak amal masjid dan terasa sangat kecil ketika dibawa di supermarket.
Lucu ya … Pertandingan bola 45 menit terasa begitu cepat berlalu daripada khotbah Jum’at yang cuma beberapa menit aja.
Lucu ya … Kita ngerasa berat banget ngebaca 1 juz Al-Qur’an, tapi terasa begitu mudah dan ringannya ketika kita membaca novel best seller setebal 100 halaman.
Lucu ya … kita harus memasukkan ke agenda kegiatan kita 3-4 minggu sebelum acara kajian keIslaman, dan begitu mudahnya kita mengubah jadwal untuk hal-hal lain.
Lucu ya … kita begitu sulitnya merangkai kata-kata indah untuk memanjatkan doa kepada Allah, padahal begitu mudahnya kita merangkai kata saat ngobrol bareng teman-teman.
Lucu ya … perpanjangan waktu sepakbola terasa begitu nikmat, sedangkan kadang kita menggurutu ketika iman memanjangkan bacaannya dalam shalat Tarawih.
Lucu ya … kita berebut untuk dapat tempat paling depan sewaktu nonton bola ataupun konser, tapi kita berusaha nyari tempat paling belakang pas shalat Jum’at agar kita cepat keluar.
Jadiin renungan ya…
Kenapa sih buang-buang duit mulu ?
Di Kampus ku Universitas Hasanuddin Makassar, ada satu kegiatan yang rutin diadain sebagai bukti pengukuhan Mahasiswa Baru. Nama Kegiatannya adalah Malam Inaugurasi.. Sebuah malam dimana kita ngadain ‘pesta’ dan ketika selesai, besoknya kita resmi jadi ‘keluarga mahasiswa (KM)’ (emang sesempit itu ya penamaan keluarga hehehe
)
Nah, masalahnya disini, kegiatan ini sangat-sangat membuang duit. Kenapa? Coba kalo kita liat pos anggaran yang biasa fakultas dapatin untuk ngebuat acara ini. Rata-rata sih 20-30 juta. Wah gila banget tuh untuk ukuran zaman susah kayak sekarang..
Saya ga’ habis pikir dengan pikiran mahasiswa lain. Katanya mereka pengen ngebela nasib rakyat kecil. Mahasiswa (menurut mereka — dan emang seharusnya gitu) harus bisa ngayomi masyarakat. Lah, kalo kayak gini apa bisa dibilang peduli ma nasib rakyat yang susah ??
Coba bayangin aja kalo tiap fakultas di Unhas ngeluarin duit kira-kira 20 juta per fakultas (paling minimal) dan di Unhas ada sekitar 12 fakultas. Jadi ada duit 240 juta yang ‘terbuang percuma’ dalam waktu yang sangat singkat dan hanya memberi ‘manfaat’ : senang, capek dan akan jadi kenangan aja..
Bener, kenangan itu yang mereka banggain.. Gitu kah mahasiswa. Pantas aja negeri kita makin miskin dan akan terus miskin kalo hal-hal sekecil gini kita abaikan. Coba kalo duit segitu kita pake buat ngebersihin lingkungan ato desa. Trus ningkatin kemakmuran desa itu. Pasti pelan-pelan (tapi pasti) negara kita akan semakin baik.
Saya ambil contoh di makassar.. Disini ada daerah yang sangat kumuh. Di tengah kota lagi. Nah kalau rencana ku, malam inaugurasi nya tetep aja dilaksanain. Tapi ga di gedung, di tempat yang kumuh itu. Nah tentu aja kan kita pengen tempat acara kita itu terlihat bagus dan bersih. Makanya lingkungan itu bisa kita bersihkan dan dicat rumah-rumahnya. Yang jelas dibuat bagus lah… Nah sekalian kita bisa libatin warga sekitar untuk ngebantu-bantu.
Alangkah indahnya jika itu terjadi. Dekan, Dosen, Mahasiswa dan Masyarakat bersatu. Kerja Bareng Bro !!! Dan efeknya ga hanya sesaat dirasakan, tapi selamanya (tentu aja selama lingkungannya masih dijaga). Dan Insya Allah akan bermanfaat. Coba deh direnungin ya fren …
Minta komentarnya donkz…
Lagi, Burung Besi yang Malang…
Ketika aku menikmati tontonan tv senin malam itu, aku tersentak oleh Breaking News dari TransTV. Pesawat milik maskapai Adam Air telah jatuh.. Namun belum ditemukan (Sampai tulisan ini dibuat pun, pesawat itu belum diketahui dimana rimbanya).Lalu kuganti channel ke MetroTV karena pengen ngetahui beritanya lebih detail.. Ya jatuhnya pesawat ini membuatku penasaran. Kenapa jatuh ? Berapa korbannya? Jatuh dimana? dan segudang pertanyaan lainnya..
Besoknya, kuikuti terus berita jatuhnya pesawat yang identik dengan warna orange itu. Berharap ada perkembangan tentang burung yang malang ini. Emang, ga ada keluarga, kolega atau orang yang aku kenal disitu, tapi setidaknya mereka adalah saudaraku, saudara se-Indonesia. Selalu berdoa dan berharap agar mereka selamat..Amin…
Esoknya (Selasa, 2 Jan 07), ada berita dari TV, katanya pesawat ini udah diketahui lokasinya, plus jumlah yang meninggal dan selamat. Alhamdulillah… Tapi ga bertahan lama, ada ralat.. Yah, ternyata pesawatnya ga’ ditemukan.. Salah info..
Aduh… udah ga dapet pake’ salah info lagi. Menteri Perhubungan jadi sibuk mengkonfirmasi ulang deh. Malu kan ama masyarakat..Pa lagi aku dengar berita ini udah sampai ke jaringan berita internasional.. Berarti seluruh dunia udah tau donk..
Ya, kita harus intropeksi atas kejadian ini..Siapa tahu bangsa kita punya kesalahan besar yang membuat kita diuji terus. Tapi sabar aja ya..Dibalik ini pasti ada sesuatu yang indah yang menunggu kita di depan sana.. K E M A K M U R A N ( Semoga … )
